“Dari balik jeruji besi, hatiku diuji
Apa aku emas sejati, atau imitasi
Tiap kita menempa diri jadi kadar teladan
Yang tahan angin tahan hujan
Tahan musim dan badai”
Menonton kembali penampilan paduan suara Dialita di Youtube channel “Sound From The Corner”. Mendengarkan cerita wanita-wanita tangguh, eks tahanan politik di masa lalu. Melihat bagaimana cara mereka melawan stigma dengan lembut, dengan karya.
Mengingat bahwa sejak dulu kala, tidak semua yang dipenjarakan itu selalu mereka-mereka yang berbuat jahat. Ketahuilah, beberapa orang dipenjara hanya karena “dianggap” salah saja. Salah yang kadang kala tidak ada dasarnya. Salah yang kadang kala karena tidak sesuai dengan yang sedang punya kuasa saja. Kisah-kisah semacam itu contohnya sudah banyak terjadi sedari dulu, sejak zaman Yusuf di Mesir sana bahkan.
Ibu-ibu Dialita menyadarkanku bahwa merawat hal-hal baik memang tidak selalu mudah, namun harus terus diupayakan. Kebenaran harus tetap disuarakan, meskipun sudah berulang kali dibungkam dan berusaha tuk dimatikan. Meskipun konsekuensinya harus diasingkan atau disingkirkan. Tidak masalah.
Bukankah Soekarno, Hatta, Sjahrir, bahkan Diponegoro juga pernah dipenjarakan? Kalau hanya digeser “diasingkan” sih belum seberapa. Bukan masalah besar. Malu dengan mereka-mereka yang jauh lebih menderita di masa lalu. Hati ini jelas masih kalah tegar jika dibandingkan dengan hati para tokoh bangsa tersebut. Jauh.
Walaupun sulit pada kenyataannya untuk bisa selalu konsisten, tapi bukankah tidak ada salahnya untuk selalu berusaha melakukan tindakan yang benar? Meskipun hanya dari dalam hati.
Demi hari-hari yang lebih baik, demi hidup yang lebih bermakna dan berguna. Sehingga hidup tidak hanya sekadar hidup. Demi kenyamanan dan ketenteraman batin ini.
Meskipun ujian akan selalu ada saja dan hadir kapan pun semaunya secara tiba-tiba, namun tidak perlu takut ketika berhadapan dengannya. Sebab, seburuk-buruknya kondisi di masa kini, tidak akan pernah berubah jika kita hanya berdiam diri saja. Apalagi ditambah dengan tidak mau belajar dari kesalahan tempo hari.
Lagi-lagi, tidak gampang memang, namun tetap bisa diwujudkan. Seperti Dialita, yang merubah semak belukar di Plantungan menjadi taman bunga yang indah jelita. Dan semua itu tidak terjadi hanya dalam satu malam saja tentunya. Perlu proses yang sabar dan tenaga yang panjang.
Kadang perlu merasakan sedikit perih juga akibat tergores ataupun terluka ketika membabat tumbuhan-tumbuhan liarnya. Dan itu hal yang biasa. Bagian dari usaha untuk mewujudkan sesuatu yang lebih rapi dan wangi. Tidak seperti masa lalu yang semrawut dan ditumbuhi banyak duri. Rimbun dan banyak yang tertutupi.
“Meskipun kini, hujan deras menimpa bumi
Penuh derita, topan badai memecah ombak
Gugur patria, tembok tinggi memisah kita
Namun yakin dan pasti, masa depan kan datang, kita pasti kembali”
Al-Fatihah untuk para korban 65-66 yang tidak bersalah.
#30092024