Skip to content

Tidurteratur.com

Akibat tidur teratur.

Menu
  • Home
  • Cerita Tidur
  • Insomnia
  • Sajak Pengigau
  • About
Menu

Melewati Lebaran

Posted on 17/03/202602/04/2026 by author

Lebaran menjelang dengan pertanyaan dasar: “Bagaimana nanti melewatinya?”

Basa-basi basi yang tiap tahun terulang, pertanyaan-pertanyaan basic yang umum dilontarkan, harapan-harapan baik yang disemogakan oleh orang-orang tersayang, yang kadang malah terasa seperti hutang yang sedang ditagihkan. Meskipun kita tidak pernah benar-benar tau, kapan dan kepada siapa kita menyodorkan proposal peminjamannya.

Perihal-perihal yang sebenarnya sudah lumrah dijumpai dan bisa dikatakan remeh untuk dianggap sebagai biang keladi atas risaunya hati dalam menghadapi lebaran nanti. Pertanyaan semacam “kapan?”, atau “menunggu apa?”, dipastikan tidak akan mudah membakar telinga karena sudah mendapati pertanyaan lain yang telah dimodifikasi dan disempurnakan sesuai dengan kondisi di lapangan menjadi: “Apa menunggu kami mati?”

Tentu saja tidak sesingkat dan sesederhana itu. Tapi disertai dengan nasihat-nasihat yang panjang terlebih dahulu. Juga cerita-cerita pilihan dari masa silam, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, berdasarkan pengalaman-pengalaman yang sudah dikemukakan sebelumnya.

Argumen-argumen yang diklaim secara sepihak tidak pernah bermaksud dan bertujuan untuk memaksakan gagasan yang sudah panjang-lebar dijabarkan. Kalimat-kalimat yang penyampaiannya sudah dikemas dengan bahasa yang lebih halus dan bijaksana, ala gaya bicara orang-orang yang lebih tua. Yang kemudian otak dangkal ini secara bodoh menerjemahkannya menjadi pertanyaan yang sangat singkat dan lugas demikian.

Padahal hati tidak pernah benar-benar terganggu jika harus menghadapi hal seperti itu, karena sedikit-banyak sudah mulai terbiasa melaluinya. Seterbiasa tertib membayar pajak kepada negara, tapi tidak pernah benar-benar merasakan apa benefit-nya. Ritus tahunan yang pasti bakal terjadi dan sulit untuk dihindari.

Namun entah kenapa, rupanya masih ada hal lain yang mengganjal dalam hati, yang membuat lebaran rasanya enggan untuk dilewati dengan memikul perasaan aneh ini. Sesuatu yang masih membebani, yang membuat khawatir datang lebih dini.

*****

“Tidak semua orang punya kemewahan untuk menyimpan dendam. Beberapa orang hanya ingin hidup sedikit lebih lama. Justru itulah alasan kita membutuhkan Lebaran. Bukan karena kita pandai memaafkan, tapi karena dunia ini terlalu sering membuat kita lelah untuk marah melulu. Maka kita menciptakan hari suci. Agar ada jeda. Agar ada ruang bagi bengkak dan lecet untuk kempes atau kering sebentar, agar bisa minum teh manis hangat, dan mengatakan: ‘Baiklah, kita lanjutkan besok lagi’,” tulis Zen RS dalam artikelnya yang berjudul “Melewati Lebaran dengan Lebih Masuk Akal” di situs Trimurti.id tahun lalu.

Tulisan tersebut kembali kubaca setelah kemarin sempat berbagi unek-unek dengan Ibu tentang kondisi hati yang sedang tidak bisa diajak berkompromi.

“Sudahlah, tidak baik yang begitu-begitu,” saran beliau kemudian.

Aku hanya mengiyakan, namun tidak berjanji bisa segera melaksanakan apa yang beliau nasihatkan panjang-panjang itu kepadaku. Hanya satu hal yang bisa kutawarkan: “Aku tetap berusaha.” Meskipun tidak mudah, meskipun begitu payah, meskipun sebenarnya sudah lelah juga menahan-nahan ingatan buruk agar tidak sembarangan muncul.

“Namun jangan salah. Tidak semua harus dimaafkan. Tidak semua bisa disapu dengan takbir dan air mawar. Ada hal-hal yang harus ditagih, karena diam bukan akhlak. Maka bila ada kawan datang dan meminta maaf, boleh jadi itu bukan tanda bahwa ia lupa. Itu hanya cara untuk mengatakan bahwa ia masih ingat, tapi tak ingin bikin patah hal-hal yang masih tersisa.

Memaafkan bukan perkara mulia. Ia bukan nilai moral, bukan nasihat ustaz. Ia kadang cuma pilihan paling praktis agar hidup bisa jalan terus. Tapi saat dilakukan dengan sungguh-sungguh, ia bisa juga jadi ruang perlawanan: bahwa saya memilih tidak membalas, bahwa saya menolak untuk membuat atau menerima memar baru.”

Seperti kata Bang Zen di atas tadi, tidak semua orang punya kemewahan untuk menyimpan dendam. Begitu pula aku. Dan sialnya, tidak semua orang punya kemewahan untuk mudah melupakan juga. Ada hal-hal yang terpaksa harus tetap diingat-ingat. Bukan untuk merawat dendam, namun agar luka-luka yang lalu tidak mudah kambuh lagi, dan luka-luka yang baru tidak mudah menimpa diri ini kembali—di bagian yang lain, yang belum ada bekas sayatannya sama sekali.

Kemudian ketika pada lebaran sebelumnya memutuskan untuk mencoba mengendurkan ketegangan, meletakkan sedikit beban meskipun hanya melalui panggilan telepon malam-malam, adalah tindakan yang diambil dengan penuh kesadaran setelah merenungkan apa-apa yang sudah dibaca dalam paragraf-paragraf berikutnya dari tulisan Zen RS tersebut. Bahwa saya tidak lupa, saya juga mengingat kebaikan-kebaikan yang pernah diterima sebelumnya.

“Perkara maaf adalah perkara mengakui bahwa kita juga salah langkah, salah waktu, salah cara. Bahwa tak semua bisa dibetulkan, tapi tetap bisa diperbaiki. Bahwa tak semua orang bisa kembali seperti dulu, tapi bukan berarti tak bisa berjalan berdampingan, meski dalam jarak yang agak berjauhan.

Mungkin di situlah makna lebaran yang paling masuk akal, sekali lagi: masuk akal, bukan yang ideal. Ini bukan tentang menjadi suci, tapi soal jadi cukup waras untuk bilang, ‘Saya tahu salah saya, dan saya juga tahu salahmu. Kita tak harus berdamai, tapi setidaknya jangan saling melukai lagi.’

Kita sangat mungkin melakukannya kepada sesama kita, dan tahu musykil melakukannya terhadap kekuasaan.”

Akan tetapi, ketika menjelang lebaran tahun ini masih saja muncul perasaan yang mengusik hati, sehingga harus membaca ulang tulisan yang sama kembali, mungkin saja itu adalah bukti, bahwa diri ini memang orang yang benar-benar naif dan sama sekali tidak pernah belajar dari pengalaman.

Bahwa kenyataannya, tidak semua orang—apalagi penguasa—sudi untuk diajak berjalan berdampingan. Beberapa sudah terlanjur berseberangan dan sudah berbeda tujuan. Sehingga yang tersisa hanyalah tinggal kecurigaan dan tuduhan demi tuduhan.

Kemudian untuk menjawab pertanyaan “bagaimana nanti melewati lebaran?”, mungkin memang sebaiknya dilalui dengan cara yang demikian. Menganggapnya sebagai waktu untuk berhenti sementara. Mengambil jeda dari lelahnya perjuangan melawan kerasnya isi kepala. Berusaha memaafkan barang sejenak, karena kita semua tau, memang mudah melakukannya terhadap sesama, namun tidak terhadap elite.

Berupaya melewati lebaran dengan lebih masuk akal (lagi). Melalui Hari Kemenangan dengan kegagalan-kegagalan (lagi). Karena terkadang, beberapa perang memang tidak harus dimenangkan, bahkan tidak harus dimulai.

*N.b.: Semua kutipan di atas diambil dari tulisan Zen RS dalam artikelnya yang berjudul “Melewati Lebaran dengan Lebih Masuk Akal” di situs Trimurti.id.


#17032026

Category: Cerita Tidur

SCAN or CLICK!

Pindai atau klik kode QR! Dukung kami dengan cara membelikan obat tidur 😉

Recent Posts

  • Melewati Lebaran
  • Sabar…
  • Memaafkan Matamu!
  • Adios Amigo
  • Ra Away

Archives

  • 2026 (2)
  • 2025 (6)
  • 2024 (6)
© 2026 Tidurteratur.com | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme