“Aku ra away 🙏”, sebuah pesan ku kirimkan kepada teman siang kemarin. Pilihan yang mau tidak mau harus segera diputuskan mengingat waktu sudah mepet dan agenda harus lekas ditentukan, mau bagaimana akhir pekan nanti. Keputusan yang cukup sulit untuk diambil, mengingat PSS sedang berada di dasar titik nadir. Sementara pertandingan tandang besok merupakan pertandingan terakhir yang menentukan nasib tim ini bakal seperti apa. Bertahan di kasta tertinggi, atau malah jatuh ke jurang degradasi? Tentu saja, semoga opsi pertama yang menjadi hasil akhirnya.
Meskipun sungguh sangatlah berat pada kenyataannya. PSS harus menang melawan tim tuan rumah Madura United, dan sekadar menang di Madura saja belumlah cukup. PSS masih harus menunggu hasil pertandingan tim Semen Padang. Jika pasukan Kabau Sirah berhasil mendapat satu poin saja di Malang besok, pupus sudah harapan Super Elang Jawa untuk tetap berlaga di Liga 1 musim depan. Tidak hanya butuh perjuangan dari para pemain di lapangan, tim ini juga butuh sebuah keberuntungan dari Raja Semesta Alam pada pertandingan di hari Sabtu besok.
Kadang aku benci menjadi seorang pemikir yang panjang. Kenapa semua hal harus dipikirkan matang-matang? Kenapa tidak bisa langsung dilakukan saja? Berangkat tandang misalnya. Kenapa harus memerlukan banyak pertimbangan? PSS sedang dalam kondisi genting. Dan di hari yang sulit, di waktu yang sempit, kenapa kita tidak bisa tetap bersama-sama saja? Mendampingi PSS, menghadapi garis takdir yang bakal hadir di pertandingan terakhir nanti. Apapun hasilnya. Bahagia atau nelangsa. Merayakan atau meratapi.
Hitung-hitungan bahkan sudah mulai dilakukan sejak laga kandang terakhir melawan Persija. Gol kemenangan di ujung laga memperpanjang harapan yang nyaris sirna di kandang sendiri. “Bariki away, mbuh piye carane,” batinku. Tapi angan-angan rupanya tidak berjalan sesuai dengan realitas. Besok masih ada hal ini, besok masih harus begitu, dan hal-hal lain yang tidak kalah pentingnya dari sepakbola. Dengan dana yang tersisa, sebenarnya masih bisa diupayakan dengan mengorbankan satu-dua hal. Tapi sungguh sangat mepet.
Belum lagi kalau akhirnya (amit-amit) degradasi. Aku masih belum bisa memastikan, respons seperti apa yang bakal muncul di Madura nanti. Dugaan sementara sih bakal chaos (ngamuklah, mosok degradasi ra ngamuk? Edan iye?), tapi ya nggak tau akhirnya bakal bagaimana. Toh, degradasinya karena sudah berusaha dan menang (hanya belum beruntung), atau karena kesalahan yang dibuat sendiri (tolol) saja juga masih belum tau. Respons yang dimunculkan pada akhirnya tergantung pada situasi di lapangan besok.
“Nek mung mikir biaya mangkate tok ki gampang, biaya bar match e kuwi lho,” kata seorang teman di tongkrongan dulu ketika hendak bertandang ke tempat-tempat yang rawan. Jika benar sampai terjadi chaos, tentu saja minimal ada kaca bus yang bakal pecah. Selebihnya ya bisa kepalamu atau kepala orang lain yang mungkin bocor. Sebab kita tidak pernah bisa benar-benar tau, bakal ada peristiwa apa di pertandingan-pertandingan tandang yang bertensi tinggi. Sementara anggaran di dompet hanya ngepas untuk berangkat saja, tidak cukup jika harus sampai belanja tidak terduga.
Sungguh, masih berat rasanya melepas laga terakhir besok begitu saja, tapi ya apa hendak dikata? Hidup mulai banyak berurusan dengan tagihan dan angka-angka, dan sialnya aku belum sekaya itu untuk bisa selalu menonton pertandingan sepakbola. Lagi pula aku juga sudah kadung janji dengan Ibu untuk tidak terlalu ke sana-ke mari mengikuti sepakbola lagi. “Saiki uripe kudu mulai ditata!” pesan beliau. Sebuah kalimat perintah yang sebenarnya otak dungu ini masih kebingungan dalam mengejawantahkannya. Mungkin salah satu caranya ya begini, dengan mengurangi kegiatan-kegiatan yang sulit direstui ketika kupamiti. Mungkin.
Yah, sepertinya memang beginilah fase sementara yang harus dilalui. Bukankah tidak semua orang selalu bisa pergi umroh atau haji, dan tidak semua doa harus dipanjatkan di depan Kakbah? Mendukung klub sepakbola kurang lebih juga sama demikian. Tidak semua orang selalu bisa hadir di laga tandang, dan tidak semua chants penyemangat harus dinyanyikan di dalam stadion. Kadang cukup dirapalkan dengan sepenuh hati dan berharap hal-hal baik bakal segera terjadi.
Doa kami kirim dari sini, PSS! Semoga tidak degradasi!
#22052025