Di antara tujuh tiga puluh dan delapan pagi. Cuaca tidak begitu cerah dibanding pagi-pagi sebelumnya. Mendung dan cenderung bakal turun hujan sepertinya. Padahal kemarin sore baru diumumkan di grup WA, bahwa pagi ini bakal ada sesi foto bersama. “Apa semesta juga tidak terlalu menyukai hal ini?” batinku. Tidak begitu menyukai momen perpisahan yang akan segera terjadi.
Tak lama lagi aku bakal ditinggal pergi satu-satunya orang yang masih bisa ku percaya di tempat ini. Agak menyebalkan memang, tapi ya mau bagaimana lagi? Nggak papa, bukan suatu masalah yang besar. Lagi pula semua ini terjadi karena sebuah hal yang baik. Bukan konflik atau perkara yang tragik. Tidak ada yang perlu diratapi.
Menit demi menit berlalu. Hujan tidak jadi datang, meski mendung tetaplah mendung. Sesi foto tetap bisa terlaksana sesuai rencana. Seketika itu juga ku perbarui prasangka dalam kepala. “Ah, sepertinya Bakso memang cocoknya hadir di situasi seperti ini,” pikirku. Di saat suhu udara sedang dingin-dinginnya, di saat cuaca sedang tidak cocok buat bekerja.
Ia selalu hadir dengan senyuman bersahaja di wajahnya. Menghangatkan jiwa orang-orang di sekitarnya. Ketika hari sedang mendung-mendungnya, ketika hati sedang suntuk-suntuknya dengan urusan dunia kerja. Sesuatu yang bakal kurindukan di waktu-waktu dan situasi yang semakin tidak menentu nanti.
Terima kasih telah menjadi teman yang baik selama ini, maaf kalau banyak kekhilafan selama bekerja bersama. Selamat atas pencapaianmu, dan selamat berkarier di tempat barumu itu. Semoga hal-hal baik selalu menyertaimu di mana pun engkau berada.
Sukses selalu dan sampai bertemu kembali di lain waktu. Di tenda-tenda kaki lima pinggir kota, atau di kedai-kedai rekomendasi algoritma yang belum sempat kita kunjungi bersama.
#26052025