“Kalau begitu, kenapa tidak memaafkan saja?” tanyamu malam itu.
“Yang pemaaf hanyalah nabi,” jawabku singkat.
Kalau bajingan seperti aku ya belum tentu.
“Lagian, memaafkan itu kalau terdengar kata maaf. Kalau tidak, ya ngapain?!” sambungku kemudian.
“Memaafkan tanpa harus menunggu permintaan maaf itu hanya kepada mereka yang lebih lemah, lebih miskin, lebih goblok, dan lebih tidak berdaya daripada kita.”
“Kalau disuruh memaafkan mereka yang lebih berkuasa, lebih kaya, lebih pandai, dan lebih mampu, ya aku nggak sanggup!” lanjutku.
Mana bisa! Atau, bagaimana caranya?! Ha?!!
Memaafkan kok elite yang semena-mena. Yang hanya memikirkan dirinya dan tidak peduli terhadap yang lainnya. Yang tidak pernah mempermudah, tapi justru memperparah. Yang tidak mau membantu, tapi malah menipu. Snob!
Asal kau tau, aku belum sampai di level itu, cuk! Rumangsamu!
Yang bisa ku lakukan sekarang hanyalah sebatas menahan diri untuk TIDAK MEMBALAS. Hanya itu.
Memendam dendam-dendam kecil. Mengubur ingatan demi ingatan yang semoga tidak tumbuh dengan sengaja, akibat terlalu sering disirami dengan darah yang terus-menerus mengucur dari luka yang masih saja menganga.
“Sampai kapan?” tanyamu kemudian.
“Entah,” jawabku yang juga tidak bisa memastikan.
Mungkin sampai kehabisan darah. Sampai mati pun juga nggak masalah. Terserah! Sesuai kemauan Yang Mulia saja, yang sepertinya masih getol menggores luka. Akan hamba layani.
*****
Percakapan tahun lalu dengan seorang kawan dalam kondisi sedang mendidih, yang sepertinya masih belum ditemukan jawaban pastinya sampai detik ini. Ingatan yang ingin dilupakan, mendadak muncul ter-trigger berita seorang putra bangsa, warga sipil, pemuda pekerja ojek online, gugur dilindas rantis aparat yang dibeli dengan uang pajak dari rakyat.
Al-Fatihah untuk Almarhum Affan Kurniawan. Semoga tumbuh yang baik-baik saja di negeri ini! ✨
#28082025