TRIGGER WARNING!
Mengandung self-harm.
“Rasane pengen nulis meneh e, syid,” kataku.
“Ya udah, nulis aja,” balasmu.
“Tapii.. Ahh… Yo ngono kae…” jawabku setengah terhenti.
Menulis bagiku adalah aktifitas yang rasanya tidak jauh berbeda dengan menyayat bagian tubuh menggunakan benda tajam seperti silet atau pisau. Kadang prosesnya harus dipersiapkan dengan baik dan hati-hati. Kadang juga tidak. Hanya butuh sedikit keberanian dan juga keyakinan saja, tidak perlu berpikir panjang. Biasanya yang demikian bentuknya jadi kurang rapi dan ala kadarnya. Hasilnya kurang dalam. Kegiatan yang dalam prosesnya sama-sama menyakitkan rasanya.
Namun walaupun menyakitkan, aktifitas tersebut juga terasa menyenangkan sebenarnya bagiku. Terutama setelah selesai melakukannya. Efek yang ditimbulkan sungguh luar biasa hebatnya. Memunculkan perasaan nikmat yang sulit untuk didefinisikan, sulit untuk dijabarkan. Melegakan mungkin istilah yang mendekati. Akan tetapi, meskipun demikian, aku sadar bahwa hasilnya selalu tidak baik untuk dipamer-pamerkan. Sebab pasti sangat jelek, buruk, kacau dan tidak beraturan. Bodoh dan memalukan.
“Hanya buang-buang waktu,” lanjutku.
“Lha tapi, kalau itu baik untukmu, kenapa tidak?” tanyamu kemudian.
“Hasilnya pasti akan sangat buruk. Tidak baik,” balasku.
“Loh, asal tidak dibagikan dan hanya untukmu pribadi. Bukankah itu tidak apa-apa?” sahutmu.
“Benar juga sih. Tapi rugi!” sanggahku.
“Kadang sisi narsistikku juga ingin dipenuhi. Percuma menulis panjang-panjang kalau tidak untuk dibagikan. Buang-buang waktu saja,” lanjutku kemudian.
Kemudian ketika sudah kelewat liar dan berlebihan, takutnya tidak ada yang mengingatkan jika hanya dipendam sendirian ini tulisan-tulisan. Curiga nantinya malah bisa jadi bom waktu.
Cukup membingungkan memang. Di satu sisi, menulis adalah salah satu bentuk coping mechanism yang cocok untukku. Menggerutu lebih tepatnya, bukan menulis. Tapi di sisi lain, menuliskan hal-hal yang tidak perlu itu rasanya seperti buang-buang waktu saja. Bukan karena tidak ada faedahnya, tetapi rasanya seperti.. Ahhh… bukankah masih banyak hal lain yang harus dikerjakan selain menggerutu? Gawean kuwi lho.. seabrek.
Akan tetapi, bukankah kotoran yang busuk pun jika diolah sedemikan rupa juga bisa menjadi pupuk yang menyuburkan? Dalam keyakinanku, tulisan yang jelek pun juga sama demikian. Jika tidak bisa menyuburkan semangat untuk melakukan kegiatan lain yang lebih baik daripada menulis (baca: menggerutu), minimal menyuburkan semangat untuk menghasilkan tulisan lain yang lebih baik lagi daripada tulisan-tulisan sampah seperti ini.
Lalu kenapa masih tidak dilakukan? Ya karena itu: Tidak ada waktu.
Ahh.. Sejak kapan aku jadi sepicik ini, sih?
Goblok! GOBLOOKKK!!
#19082024