“Ingat teman-teman, jangan percaya politisi. Jangan percaya aku juga,” kataku mencoba memberi saran.
“Tapi, masak sih dia begitu? Padahal selama ini dia tu kelihatannya orang yang baik lho. Di masyarakat juga baik,” sanggahmu.
“Definisikan baik menurutmu!” kataku yang juga mulai kebingungan. Padahal kamu sendiri yang bilang habis melihatnya di sana, di tempat seperti itu, melakukan hal yang demikian.
“Ngg.. Ya gimana ya? Sepertinya nggak bakal begitu sih orangnya, dia itu kan bapak yang baik,” jawabmu.
“Bapak yang baik nggak akan melakukan hal itu,” sahutku.
“Memang benar definisi baiknya harus disamakan dulu, karena perspektif masing-masing orang bisa berbeda. Tapi kalau seperti itu, menurutku bisa jadi dia itu betul bapak yang baik. Toh, dia sudah menafkahi anaknya. Cuman, mungkin dia bukan suami yang baik karena sudah begitu,” sahut teman yang lain dari samping.
“Hmm..,” aku hanya mengangguk saja. Diam dan sesekali menyetujui apa yang masing-masing dari teman-temanku pikirkan dan perkirakan. Masing-masing punya standar baiknya sendiri-sendiri. Namun dalam benakku, ketika tolok ukur baiknya adalah sebagai bapak, yang seperti itu tetap bukanlah sosok bapak yang baik. Bagiku bapak yang baik seharusnya lebih memilih melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama dengan putra/putrinya yang sedang dalam masa tumbuh dan berkembang. Bukan malah melakukan perbuatan seperti yang kalian ceritakan di tempat yang seperti itu, sampai sepagi itu.
Bukankah kamu sendiri mau marah ketika suamimu pulang terlalu “pagi”? Dalam benakku, tidak mengkhianati ibu dari anak-anak juga merupakan standar jadi bapak yang baik. Ah, kalau hanya perkara memberi nafkah, bukankah itu sudah menjadi kewajiban seorang bapak kepada anaknya? Bare minimum.
Tapi tak masalah juga kalau menurut kalian memberi nafkah saja sudah cukup untuk dibilang baik. Tingkat pengetahuan yang dimiliki, lingkungan tempat tumbuh, keyakinan yang dianut, pengalaman hidup, banyak hal yang membuat manusia bisa punya sudut pandangnya masing-masing. Toh, kita juga tidak tahu pamitnya bapak itu ke anaknya bagaimana. Mungkin anaknya sudah ia ajak bersenang-senang sebelum ditinggal pergi dan sudah tertidur lelap karena kecapekan saking bahagianya. Mungkin istrinya juga telah ia pamiti dan mengizinkan suaminya tersebut untuk melakukan apa saja setelah siang-malam sibuk bekerja. Siapa yang tau?
Bukankah di tempat yang lain, ada juga orang yang menganggap bahwa bapak yang baik adalah bapak yang mampu memberikan tidak hanya nafkah, tapi juga sampai mencarikan pekerjaan kepada anaknya?
Memberikan kekuasaan kepada sang putra, bagaimanapun caranya. Meskipun harus mengorbankan konstitusi dan mencederai demokrasi, meskipun harus mendzolimi orang-orang seantero negeri, bukankah ada orang-orang yang menganggap hal demikian adalah sesuatu yang baik dan lumrah-lumrah saja? ADA! Lima puluh delapan persen. Dan bagiku terserah! Bebas! Hak masing-masing. Harapanku hanyalah semoga standar kalian, teman-temanku, tidak seperti itu. Semoga.
Kemudian, bagaimana sebenarnya standar baik atau tidaknya sesuatu itu? Bahkan ketika dikerucutkan dengan menambah kata “bapak” saja kita masih bisa berbeda pandangan tentang hal itu. Sungguh kompleks memang. Entah, coba tanyakan saja pada hati nurani kalian masing-masing. Kalau sesuatu itu bisa membuat hatimu jadi risau dan mengganjal, ya mungkin saja memang kurang baik. Mungkin.
Tetap ingat saranku di awal tulisan ini, dan selalu gunakan otak kalian untuk berpikir. Biar kalian tidak gampang kaget (atau gampang ditipu). Juga biar kita tetap bisa berdiskusi seperti ini, agar standar baiknya bisa berkembang dan semakin tinggi lagi. Baik bagiku dan baik bagimu. Baik bagi kita bersama, bukan segelintir orang saja.
#25092024